Wednesday, January 15, 2014
Home »
» OPOSISI SURIAH DI AMBANG KEHANCURAN MENJELANG KONFERENSI JENEWA II
OPOSISI SURIAH DI AMBANG KEHANCURAN MENJELANG KONFERENSI JENEWA II
Dua minggu menjelang Konferensi Perdamaian Suriah, grup oposisi dukungan barat diambang kelumpuhan, terseret oleh tekanan dari luar, perpecahan dan perbedaan pendapat yang dalam.
Krisis yang terjadi di dalam tubuh SNC (Syrian National Coalition) menimbulkan keraguan terhadap kelangsungan konferensi Jenewa II, yang telah ditetapkan akan dibuka pada 22 Januari di Montreux, Swiss. Prospek keberhasilan dari pembicaraan itu tampaknya masih suram. Presiden Bashar Al-Assad sudah menegaskan bahwa dia tidak punya alasan untuk menyerahkan kekuasaanya, sedangkan oposisi tidak sedang dalam keadaan yang bisa memaksa presiden Assad, demikian menurut Associated Press pada laporannya hari Kamis.
Amerika dan Rusia, yang masing-masing mendukung pihak yang berlawanan pada konflik yang telah menelan lebih dari 100.000 jiwa ini, telah mencoba selama berbulan-bulan untuk membawa Pemerintah Suriah dan oposisi ke meja perundingan untuk mengakhiri perang. Namun usaha itu mengalami kebuntuan, tidak ada pihak pihak yang mau berkompromi, baik pihak Pemerintah Suriah maupun pihak Opisisi. Keadan itu membuat rencana perundingan itu ditunda beberapa kali.
Sekarang hari telah ditentukan dan undangan telah disebar, namun apakah pihak Oposisi akan menghadiri pertemuan itu belum jelas.
"jenewa akan menjadi bukti hancurnya apa yang dinamakan Oposisi Moderat di Suriah, baik di aspek politik maupun militer," kata Salman Shaikh, direktur Brookings Doha Center.
Berbagai faksi berbeda yang membentuk koalisi sedang dalam tekanan Internasional untuk hadir dalam konferensi itu, menurut Saikh, "Sementara semua tahu, bila mereka menghadirinya, mereka akan menghadiri sebuah konferensi yang tidak berguna, kurang menguntungkan yang tidak akan menghasilkan apa-apa yang bisa mereka tunjukkan pada rekan-rekan mereka di Suriah, bahkan akan merusak kredibilitas mereka.
Masalah kredibilitas telah menghantui koalisi sejak pembentukannya setahun yang lalu. Kelompok ini dibentuk oleh desakan pihak Internasional untuk membentuk badan yang lebih kuat, lebih solid dan bertindak sebagai dukungan kepada pasukan ekstrimis yang memerangi Pemerintah Suriah.
Namun Koalisi bentukan itu tidak pernah bisa bersatu dan menjadi sebuah kepemimpinan yang efektif bagi sponsor-sponsor dari luar, termasuk Amerika dan Sekutu-sekutu Arab-nya, tidak mempunyai visi, sementara itu pemberontak di dalam Suriah menuduh oposisi diluar negeri menjadi tidak efektif dan telah 'kehilangan sentuhan'.
Perjuangan koalisi tidak pernah atas kehendak sendiri, dan keputusan untuk meghadiri konferensi Genewa menghadapi pertentangan-pertentangan internal.
Kelompok Koalisi samasekali bukan sebuah kelompok alamiah yang mendapat dukungan dari para aktifis dan militan di dalam negeri. Legitimasi oposisi selama ini didapat dari pihak-pihak luar.
Kelompok ini mestinya bisa menunjukkan kredibilitasnya dimata para pencelanya dengan mendapatkan dukungan internasional -terutama senjata- dari sekutu-sekutunya. Namun negara-negara sponsor itu sering kali menolak dengan alasan khawatir senjata-senjata bantuan itu akan jatuh ditangan para ekstrimis yang merupakan kelompok dominan diantara oposisi bersenjata.
Kegagalan untuk menunjukkan niat baik koalisi bisa jadi telah melemahkan ikatan dengan para ekstrimis di dalam negeri Suriah. Semua dimulai dengan rontoknya jalinan pada bulan September, ketika hampir 12 faksi paling berpengaruh secara terbuka melepaskan diri dari koalisi dan sayap militernya. Di kemudian hari banyak lagi yang melakukan langkah yang sama
Para pemberontak itu serempak menolak negosiasi dengan pihak pemerintah. Agar kredibilitas mereka terjaga, koalisi harus menolak perundingan perdamaian, namun melakukan itu berarti
mengabaikan tuntutan para sekutu dari luar negeri.
Sebagai tanda betapa terpecahnya pihak koalisi, mereka mengadakan pertemuan selama lima hari pada minggu lalu untuk memutuskan apakah akan menghadiri perundingan di Jenewa.
Pertemuan itu berlangsung kacau, dengan peserta yang banyak meningalkan pertemuan. Akhirnya pihak koalisi memutuskan untuk menunda keputusan sampai pertengahan minggu depan - kurang dari seminggu sebelum perundingan perdamaian dimulai.
Sejak saat itu anggota koalisi yang menangguhkan keanggotaannya mencapai 45, menurut perwakilan koalisi di Qatar, Nizar al-Hrakey.
" Aksi walk-out menjadi puncak dari ketidak-sepakatan yang dimiliki di koalisi sejak lama, yang telah membawa kita ke jalan buntu," al Hrakey mengatakan lewat telepon dari
Istambul. "Ini termasuk operasinya, pembentukannya dan proses pengambilan keputusan. Yang terakhir dan tidak kalah penting adalah pertentangan soal konferensi Jenewa."
Pemimpin koalisi Ahmed al Jarba mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon, dia mengatakan bahwa koalisi akan hadir di Jenewa tanpa persetujuan dari dewan umum, kata al Hrakey.
"Ini adalah jerami yang mematahkan punggung onta," lanjutnya.
seorang tokoh oposisi Suriah veteran Haitham Manna mengatakan ia menduga koalisi akan
terpecah dalam Konferensi perdamaian.
"Saya selalu berkata konferensi Jenewa akan menjadi akhir dari koalisi," katanya. "Kelompok ini mempunyai landasan yang rapuh."
Meskipun terdapat ancaman pada keutuhan koalisi, para sponsor dari luar negeri terus memberi tekanan agar mereka mau hadir di Jenewa.
Di Paris, Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius mendesak koalisi untuk hadir, ia mengatakan konferensi adalah satu-satunya jalan untuk membentuk pemerintahan transisional dan menghentikan pertempuran.
"Kami meminta semuanya untuk bersedia berpartisipasi," kata Fabius. "Kemudian, bila hasil konferensi Jenewa sesuai dengan harapan, kita akan menghadapi tantangan yang kedua yaitu mewujudkannya pada hasil yang nyata."
Seiring dengan para diplomat berusaha mewujudkan berlangsungnya konferensi Jenewa, kekerasan dari perang ini terus berlanjut.
Pada hari Kamis, sebuah bom mobil meledak di dekat sebuah sekolah di desa al-Kaffat di provinsi tengah Hama, menewaskan sedikitnya 18 orang, kata kantor berita negara Suriah.
Ledakan itu terjadi di Suriah utara di tengah pertikaian antara brigade pemberontak dan kelompok al-Qaeda, ISIL. Kelompok teroris telah menyingkirkan teroris lain dengan menggunakan taktik yang brutal untuk menerapkan hukum Islam sesuai dengan penafsiran mereka, dengan melakukanpenculikan dan pembunuhan para lawan.
sumber :http://en.alalam.ir/news/1553348







0 comments:
Post a Comment