Tuesday, January 7, 2014

Kemesraan Saudi - Zionis Makin Kelihatan



Ada banyak persamaan antara Saudi dan Zionis Israel. Keduanya adalah regim yang ‘tidak sah’ yang menguasai tanah suci. Persekutuan rahasia mereka sekarang mulai kelihatan. Umat muslim harus mengambil langkah yang tepat untuk menyikapi keadaan ini.

Dua regim penjajah ini, yang satu dipimpin oleh Kaum Zionis Israel dan yang lainnya oleh Kaum Badui Najd dari Semenanjung Arab, keduanya telah memperlihatkan ‘hubungan gelap’ yang telah dijalin sejak lama. Keadaan yang berkembang secara cepat di Timur Tengah akhir-akhir ini telah membuat kemesraan itu makin terlihat. Bukan hanya Muslim tapi juga non Muslim yang berpikiran adil mengenali  ketidak absahan rezim zionis di tanah suci. Saudi bagaimanapun telah mampu menutup-tutupi identitas mereka sebenarnya dengan mengklaim sebagai  ‘Penjaga Dua Tanah Haram’  (Mekah dan Madinah-pen). Jika demikian,  maka mereka telah menunjukannya dengan cara yang aneh, satu tangan sebagai Penjaga Tanah Haram dan satu tangan sebagai alat kepentingan Imperialisme Amerika dan Rasisme Zionis Israel.

Perdana Menteri Israel beberapa bulan yang lalu pernah menyebutkan bahwa hubungan Zionis-Saudi dijalin dalam rangka menghadapi Iran. Dia pernah berbicara tentang rezim arab namun mengingat ukuran dan pentingnya Saudi, sudah jelas, dia membicarakan regim di Riyadh. Mesir, pemain penting timur tengah lainnya sudah sejak lama merangkul Zionis secara terbuka.

Dua kebijakan yang gagal telah membuat hubungan rahasia antara Riyadh dan Tel Aviv menjadi terbuka : Kebijakan Saudi-Israel di Suriah dan usaha mereka untuk mengisolasi pengaruh Iran di kawasan. Kedua kebijakan itu hasilnya berantakan akibat perkembangan yang terjadi di luar kendali mereka. Saudi pada khususnya tidak hanya ‘marah’ kepada panutan lama meraka Amerika tapi juga ‘panik’ karena Washington telah membangun hubungan, bagaimanapun rapuhnya, dengan Iran.

Diantara rangkaian hubungan antara Saudi dan Zionis, yang terakhir adalah pertemuan antara mantan kepala Dinas Intelijen Saudi Arabia, Pangeran Turki al Faisal dan mantan duta besar Israel untuk Amerika, Itamar Rabinovich di Monako pertengahan Desember. Menurut sebuah laporan radio di Israel, Turki al Faisal secara terbuka telah berjabat tangan dengan Rabinovich di konferensi kebijakan dunia. Hubungan mereka berlanjut sampai Rabinovich mengundang Turki al Faisal untuk berbicara dihadapan parlemen Israel, Knesset.

Turki al Faisal dikatakan menolak secara halus tawaran itu . Tapi fakta bahwa tawaran itu telah diberikan mengindikasikan bahwa hubungan mereka telah terjalin sejak lama dan dalam. Tawaran itu juga menunjukkan tingginya derajat saling percaya diantara mereka. Rabinovich adalah seorang ahli soal kebijakan Suriah dan sangat jelas berencana untuk membangun hubungan lebih dalam lagi dengan Mantan Kepala Intelijen Saudi itu meskipun Kepala Inteijen Saudi yang sekarang Bandar Bin Sultan juga sudah terlibat lebih jauh lagi dengan Zionis.

Kedua Rezim telah menunjukkan sikap kritis terhadap kebijakan Amerika di Suriah dan kedekatan kembali Washington dengan Teheran. Zionis Israel juga telah menunjukkan sikap keberatannya. Saudi yang selama ini bersikap lebih diplomatis terhadap sekutu mereka Amerika, mengecam sikap terbuka Amerika kepada Iran.

Saudi jelas merasakan pergeseran kebijakan Amerika di kawasan Timur Tengah. Presiden Barack Obama menegaskan ini ketika dia mengumumkan perubahan kebijakan di Asia Pasifik untuk menghadapi meningkatnya kekuatan China. Saudi melihat perkembangan ini sebagai indikasi bahwa peran penting  mereka mulai berkurang di mata Amerika. Lebih jauh lagi Obama membuat Saudi terkejut ketika dia menolak untuk melancarkan serangan militer ke Suriah musim panas lalu, yang sekarang telah diketahui bahwa skenario itu direncanakan oleh Bandar Bin Sultan. Ini adalah tamparan untuk Bandar. Dan Saudi seolah dipermalukan, dimana mereka telah lama percaya bahwa Amerika adalah sekutu yang bisa diandalkan di kawasan.

Segera setelah itu, Bandar mengumumkan bahwa mulai sekarang kerajaan Saudi akan berjalan sendiri di Suriah tanpa mengkoordinasikan kebijakannya dengan Washington. Hasilnya adalah pembentukan “Islamic Front”, sebuah grup dari enam atau tujuh kelompok pemberontak  yang dicomot dari  FSA yang dibekingi oleh Barat. Menurut beberapa laporan, pasukan Islamic Front yang dibekingi dan didanai Saudi ini telah mengambil alih beberapa posisi FSA dan merebut pasokan senjata mereka dari gudang-gudang dekat dengan perbatasan Turki. Pemimpin FSA Salim Idriss juga dilaporkan masih dalam pelarian.

Saudi berniat untuk membatalkan Konferensi Genewa II atas Suriah yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Januari 2014. Kelompok-kelompok  bekingan Saudi mengajukan beberapa syarat yang justru mengancam berlangsungya konferensi itu. Pemerintah Suriah juga mengatakan bahwa mereka akan hadir dalam konferensi apabila tidak ada syarat-syarat tertentu sebelumya. Ini yang dikatakan Lakhdar Brahimi, Perwakilan PBB dan Liga Arab ketika mengumumkan tanggal berlangsungnya Konferensi Genewa II pada bulan November yang lalu.

Pasukan pemerintah Suriah telah mencapai kemajuan yang berarti sementara kelompok-kelompok pemberontak saling bertempur sendiri. Kenyataan ini telah melemahkan mereka. Lebih jauh lagi aksi biadab mereka telah membuat rakyat Suriah menjauhi mereka. Mereka tidak ingin pemerintahan Bashar al-Asad digantikan oleh orang-orang biadab yang gemar memenggal kepala dan kanibal. Perilaku seperti itu bukan apa-apa bagi Saudi; mereka ingin al-Assad disingkirkan tak peduli berapa harga yang harus dibayar oleh rakyat Suriah. Sudah berjuta penduduk Suriah hidup sebagai pengungsi dan PBB telah mengajukan dana sebesar 6.5 miyar dollar untuk bantuan darurat atau para pengungsi ini akan menghadapi ancaman kelaparan. Kondisi kamp pengungsi baik di Lebanon atau Jordan sangat menyedihkan. Badai salju akhir-akhir ini, yang tidak biasa terjadi dikawasan ini, telah menambah penderitaan para pengungsi.

Kesengsaraan para pengungsi ini, bagaimanapun bukan sesuatu yang mengganggu bagi Saudi. Malah itu seolah menjadi keuntungan bagi mereka karena bisa mendatangkan rasa simpati bagi rakyat Suriah, dimana Saudi dapat melemparkan kesalahan kepada pemerintahan Assad. Menarik untuk dicatat, Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry menyatakan bahwa dia bersedia bertemu dengan kelompok pemberontak yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Bukankah amerika menyerang Afghanistan untuk menyingkirkan al Qaeda atau hanya tipu muslihat menyerang negeri pegunungan yang kaya mineral itu?

Dalang dari persekutuan Saudi – Zionis adalah Bandar Bin Sultan. Selama masa tugasnya yang lama sebagai duta besar kerajaan Saudi untuk Amerika dia membina hubungan dekat dengan kaum neo-konserfativ disana, terutama Zionis. Pesta-pesta mewah yang diadakannya sangat dikenal dengan minuman kerasnya dan gadis-gadis setengah telanjang .(orang bertanya-tanya apa yang akan dikatakan  kementerian saudi yang bertanggung jawab dalam “amar makruf nahi mungkar” melihat perilaku seperti itu, atau itu bukan masalah apabila yang melakukannya adalag salah satu anggota bangsawan Saudi?)

Segera setelah semuanya jelas bahwa Amerika tidak akan menyerang Suriah sebagaimana Saudi harapkan dan rencanakan, Bandar pergi ke kota pelabuhan Aqaba di Jordan untuk bertemu  Tamir Pardo, direktur Badan intelijen Israel Mossad. Tujuannya adalah untuk mengkordinasikan kebijakan Saudi-Israel di Suriah dan Iran. Informasi ini berasal dari sumber di dalam Kedutaan Saudi di Amman, Jordan, menunjukkan bahwa di dalam lingkaran kekuasaan Saudi terdapat beberapa pertentangan.

Penting untuk mengingat ketika plot untuk merekayasa pemberontakan  diluncurkan di café Paris  pada Februari 2011, Bandar menghadiri pertemuan itu bersama Dan Shapiro duta besar Amerika untuk Israel dan Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Jeffrey Feltman. Tentu saja beberapa tokoh oposisi suriah ikut serta. Keduanya Shapiro dan Feltman adalah Zionis dan pro-Israel yang kuat. Kesimpulan saat itu adalah bahwa rezim Assad akan runtuh dalam hitungan bulan atau bahkan minggu.

Bandar juga telah membuat gerakan lain, sejak penolakan Amerika untuk menyerang Suriah Agustus yang lalu. Dia dilaporkan telah bertemu dengan Presiden Prancis Francois Hollande ketika dia mengunjungi Tel Aviv untuk bertemu dengan Netanyahu. Menurut sebuah website di Lebanon,  al-Hadath, Bandar menawarkan kebijakan bersama terhadap kebijakan nuklir Iran untuk menyabotase perjanjian apapun dengan Amerika. Lebih jauh bandar menawarkan kerjasama pertahanan dengan Prancis (Saudi akan membeli senjata dar Prancis). Tawaran ini terdengar merdu di telinga Hollande ditengah keadaan ekonomi Prancis yang sedang sulit. Semua pemasukan diterima dengan terbuka.

Rangkulan terbuka Saudi kepada Zionis itu mencerminkan keputusasa-an mereka. Seharusnya, bagaimanapun juga, itu bisa menjadi petunjuk bagi segenap umat Muslim yang tulus kepada sifat sebenarnya dari rezim ini. Pertanyaan yang mesti diajukan segenap umat Muslim adalah : Apakah dua tanah suci Mekah dan Madinah dapat dibiarkan berada di tangan sekutu Zionis, Saudi? Bila Masjid al-Aqsa berada dibawah pendudukan langsung Zionis, Mekah dan Madinah berada dibawah pendudukan tak langsung dari Zionis, sebab Saudi adalah sekutu dekat mereka.

Berapa lama umat Islam akan membiarkan keadaan seperti ini berlanjut?

diterjemahkan dari artikel yang ditulis Oleh  Taahir Mustafa

Sumber :http://www.crescent-online.net/2014/01/saudi-zionist-alliance-against-muslims-exposed-tahir-mustafa-4220-articles.html

         
Share:

0 comments:

Post a Comment